TrustFinance adalah informasi yang dapat dipercaya dan akurat yang dapat Anda andalkan. Jika Anda mencari informasi bisnis keuangan, ini adalah tempatnya. Sumber informasi bisnis keuangan yang lengkap. Prioritas kami adalah keandalan.

Thanakit Sutto
Mar 06, 2026
7 min read
37

Dalam dunia investasi, khususnya di pasar Forex, kata “Licensed” atau “SEC-Registered” sering dianggap sebagai jaminan keamanan. Banyak investor menafsirkan kata-kata ini berarti telah melalui pemeriksaan negara, ada lembaga pengawas di belakangnya, dan jika terjadi masalah, kemungkinan akan mendapatkan perlindungan pada tingkat tertentu.
Namun, kasus Titanium Capital dengan jelas menunjukkan bahwa hanya dengan mempercayai kata “Registered” tanpa memverifikasi dari sumber resmi dapat menyebabkan kerugian jutaan dolar.
Pada tanggal 14 Desember 2023, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (U.S. Securities and Exchange Commission – SEC) mengeluarkan siaran pers nomor SEC Press Release No. 2023-251 yang menyatakan bahwa Henry Abdo, pendiri Titanium Capital LLC, telah mengumpulkan dana dari lebih dari 160 investor dengan total nilai setidaknya 5,3 juta dolar AS sejak sekitar tahun 2014.
Dalam gugatan yang diajukan ke U.S. District Court for the Eastern District of Michigan, SEC lebih lanjut menyatakan bahwa beberapa investor adalah lansia, dan salah satu korban kehilangan lebih dari 333.000 dolar AS, yang merupakan tabungan penting dalam hidupnya.
Kemudian, kasus tersebut dilanjutkan dengan proses pidana paralel oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ), dan pada tahun 2025, terdakwa mengaku bersalah atas tuduhan yang berkaitan dengan skema Ponzi.
Angka 5,3 juta dolar AS ini bukan hanya statistik, tetapi kerugian nyata yang terjadi pada individu nyata dan terakumulasi selama bertahun-tahun.
Dalam gugatan SEC, disebutkan bahwa pendiri Titanium Capital menggunakan pernyataan:
“Titanium Capital was registered with and closely examined by the SEC.”
SEC dengan jelas menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Perusahaan tidak terdaftar di SEC seperti yang diklaim, dan penawaran sekuritas tersebut juga tidak terdaftar.
Oleh karena itu, kasus ini bukan tentang memiliki Lisensi yang lebih lemah atau berada di bawah pengawasan lembaga yang kurang ketat, melainkan kasus mengklaim memiliki Lisensi padahal tidak ada.
Dan banyak investor tidak memverifikasi klaim ini dengan database lembaga pengawas secara langsung.
Di sinilah kerugian dimulai.
SEC menggunakan istilah “Ponzi-style payments” dalam gugatan, yang berarti uang dari investor baru digunakan untuk membayar keuntungan kepada investor sebelumnya, agar sistem terlihat menghasilkan keuntungan nyata.
Pada awalnya, ada pembayaran keuntungan, laporan kinerja, dan struktur presentasi yang terlihat profesional. Kepercayaan pun terus meningkat. Beberapa investor menambah investasi, beberapa merekomendasikan kenalan untuk bergabung, hingga dana terkumpul setidaknya 5,3 juta dolar AS.
Jika tidak ada klaim “Registered with the SEC”, kredibilitas sistem mungkin akan berkurang sejak awal. Namun, ketika nama lembaga pengawas tingkat nasional dikaitkan, kecurigaan banyak investor secara otomatis berkurang.
Ini adalah dimensi psikologis dari Lisensi yang sering diabaikan.
Salah satu penyebab kesalahpahaman di pasar adalah penggunaan istilah “Lisensi Forex” secara umum. Kenyataannya, tidak ada lisensi tunggal bernama Lisensi Forex yang berlaku di seluruh dunia. Lisensi tergantung pada peran perusahaan dan yurisdiksi yang mengaturnya.
Di AS, jika sebuah perusahaan ingin menerima klien ritel untuk trading Forex secara langsung, ia harus terdaftar sebagai Retail Foreign Exchange Dealer (RFED) di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan juga harus menjadi anggota National Futures Association (NFA).
Menjadi RFED bukanlah hal yang mudah. Perusahaan harus memiliki modal minimum yang sangat tinggi, puluhan juta dolar, dan harus melaporkan status keuangan secara teratur. Jika ada perusahaan yang menerima klien ritel di AS tanpa terdaftar dalam status yang benar, itu dianggap ilegal.
Selain itu, ada peran lain seperti Futures Commission Merchant (FCM) yang menerima pesanan perdagangan berjangka dan beberapa jenis produk derivatif, serta Commodity Trading Advisor (CTA) untuk mereka yang memberikan saran atau mengelola portofolio investasi berjangka dan Forex.
Setiap jenis Lisensi memiliki fungsi yang berbeda dan memberikan hak yang sangat berbeda.
Bagi investor Indonesia, sebagian besar broker yang digunakan tidak berada di bawah CFTC, melainkan di bawah lembaga pengawas di negara lain, seperti:
FCA (Financial Conduct Authority – Inggris Raya) yang dianggap sebagai regulator Tier 1, memiliki persyaratan terkait pemisahan dana klien (Client Money Rules) dan sistem kompensasi FSCS jika perusahaan bangkrut.
ASIC (Australia) yang menetapkan modal minimum, memiliki pelaporan keuangan, dan pengawasan berkelanjutan.
CySEC (Siprus) di bawah kerangka hukum MiFID II Uni Eropa, yang memberikan hak untuk menyediakan layanan di negara-negara anggota UE.
Sementara itu, lembaga pengawas di yurisdiksi Offshore seperti Seychelles FSA, BVI FSC, atau Mauritius FSC, seringkali memiliki persyaratan modal dan pengawasan yang lebih ringan, serta memungkinkan penggunaan leverage yang lebih tinggi.
Yang penting adalah setiap Lisensi negara memberikan tingkat perlindungan yang berbeda secara signifikan.
Memiliki Lisensi tidak berarti aman sama.
Memiliki Lisensi tidak berarti pengawasan sama ketatnya.
Dan yang terpenting, memiliki Lisensi tidak berarti akun Anda selalu berada di bawah Lisensi tersebut.
Kasus Titanium Capital menunjukkan 3 tingkat risiko:
Tingkat pertama adalah risiko mempercayai klaim tanpa verifikasi dari sumber resmi. Jika investor mencari nama perusahaan di database SEC atau IAPD, mereka akan menemukan bahwa tidak ada pendaftaran seperti yang diklaim.
Tingkat kedua adalah risiko salah memahami arti kata Registered. Bahkan jika perusahaan benar-benar terdaftar, kata Registered tidak berarti jaminan kualitas atau jaminan keuntungan, seperti yang pernah diperingatkan SEC dalam Investor Alert berjudul “Beware of False Claims of SEC Registration”.
Tingkat ketiga adalah risiko struktural pasar Forex itu sendiri, yang memiliki banyak lembaga pengawas, banyak jenis lisensi, dan banyak entitas dalam satu perusahaan. Jika tidak memahami struktur ini, investor mungkin salah menafsirkan status hukum sepenuhnya.
Kerugian 5,3 juta dolar AS dalam kasus Titanium Capital tidak disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar mata uang, tidak juga oleh strategi trading yang gagal.
Ini dimulai dari kepercayaan pada kata “Registered with the SEC”
tanpa verifikasi status sebenarnya.
Ini adalah gambaran paling jelas dari Risk from Misinformation
Risiko yang timbul dari informasi yang terlihat kredibel, tetapi tidak diverifikasi secara menyeluruh.
Dalam dunia Forex, pemeriksaan Lisensi yang baik bukan hanya melihat apakah ada kata “Licensed” atau tidak, tetapi harus memahami apa Lisensi itu, siapa yang mengeluarkannya, apa yang diatur, dan entitas mana yang sebenarnya menaungi akun kita.
Karena terkadang, kerugian jutaan dolar
tidak disebabkan oleh keputusan investasi yang salah,
tetapi oleh kepercayaan pada informasi yang tidak diverifikasi secara cukup mendalam sejak awal.
Sumber & Referensi

Thanakit Sutto
Finance content writer with a passion for investing, believes that good knowledge empowers smart decisions.