Apa itu Revenge Trade? Hentikan trading balas dendam sebelum portofolio hancur.

Thanakit Sutto
11月 12, 2025
6 min read
7
Saya mendengar cerita dari seorang trader yang pernah memiliki portofolio 2 juta Baht, tetapi hancur dalam satu hari karena Revenge Trade atau trading balas dendam. Dia bercerita dengan suara bergetar bahwa setelah kerugian pertama 100.000 Baht, dia mencoba trading untuk membalas dendam hingga kerugiannya semakin parah, sampai akhirnya hanya tersisa 50.000 Baht di portofolionya. Kisah seperti ini saya dengar dari banyak trader hingga tak terhitung jumlahnya. Revenge Trade adalah salah satu perilaku merusak diri yang paling berbahaya, dan merupakan bagian penting dalam 7 Psikologi Trading yang Akan Membuat Anda Bertahan di Pasar yang harus diwaspadai dan dipelajari untuk dikendalikan oleh setiap trader.
Apa itu Revenge Trade dan Mengapa Berbahaya?
Revenge Trade adalah trading yang dilakukan dengan emosi marah, kesal, atau keinginan untuk membalas dendam setelah mengalami kerugian. Trader yang berada dalam kondisi ini akan mencoba membuka order baru segera dengan harapan mendapatkan keuntungan untuk menutupi kerugian yang terjadi, seringkali dengan meningkatkan Lot Size, tidak menggunakan Stop Loss, atau trading pada pasangan mata uang yang tidak dikuasai. Dari survei DailyFX, ditemukan bahwa 73% trader yang portofolionya hancur disebabkan oleh Revenge Trade sebagai pemicunya.
Seorang trader senior pernah menjelaskan kepada saya bahwa Revenge Trade seperti mengemudi saat marah. Semakin marah, semakin cepat dan ceroboh mengemudi. Bagian otak yang digunakan untuk membuat keputusan rasional akan dikuasai oleh emosi, sehingga tidak dapat melihat tanda-tanda bahaya yang jelas. Sama seperti dia pernah rugi 500.000 Baht dalam semalam karena mencoba membalas dendam dari kerugian awal hanya 50.000 Baht.
Tanda-tanda Sedang Melakukan Revenge Trade
Dari pengalaman berbicara dengan banyak trader, saya mengamati tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi Revenge Trade. Tanda pertama adalah membuka order baru segera setelah menutup posisi rugi, tanpa berhenti untuk menganalisis atau menunggu Setup baru. Seorang trader memberi tahu saya bahwa dia menyadari sedang melakukan Revenge Trade ketika dia membuka 10 order dalam 1 jam, padahal biasanya dia hanya membuka 2-3 order per hari.
Tanda kedua adalah meningkatkan Lot Size lebih dari biasanya. Seorang trader wanita bercerita bahwa dia pernah meningkatkan Lot dari 0.1 menjadi 1.0 segera setelah rugi, berpikir bahwa jika dia menang sekali, dia akan mendapatkan semuanya kembali, tetapi hasilnya adalah kerugian 10 kali lebih parah. Tanda ketiga adalah trading pada pasangan mata uang yang belum pernah ditradingkan atau tidak dikuasai. Dan tanda terakhir adalah tidak menggunakan Stop Loss atau terus menggeser Stop Loss karena tidak mau menerima kekalahan.
Alasan Psikologis Terjadinya Revenge Trade
Psikolog trading menjelaskan bahwa Revenge Trade disebabkan oleh bias kognitif yang disebut "Loss Aversion", yaitu rasa sakit akibat kerugian lebih kuat daripada kebahagiaan dari keuntungan, hingga 2 kali lipat. Ketika kita rugi, otak akan melepaskan hormon Kortisol yang menyebabkan stres dan keinginan untuk segera mengkompensasi perasaan buruk tersebut. Seorang trader senior pernah memberi tahu saya bahwa Revenge Trade seringkali terjadi setelah Apa itu FOMO? Psikologi Ketakutan Ketinggalan yang Harus Diketahui Trader karena ketika trading dengan FOMO dan mengalami kerugian, kemarahan dan keinginan untuk membalas dendam akan segera muncul.
Alasan penting lainnya adalah ego dan harga diri. Banyak trader merasa bahwa pasar "curang" atau "bermain-main" dengan mereka, sehingga mereka ingin membuktikan bahwa mereka lebih baik dari pasar. Saya pernah mendengar seorang trader berkata, "Pasar menantang saya, saya harus mengalahkannya." Pemikiran seperti ini adalah awal dari bencana, karena pasar tidak memiliki emosi, tidak mengenal kita, dan tidak peduli bagaimana perasaan kita.
Cara Menghentikan Revenge Trade yang Digunakan Trader Profesional
Banyak trader sukses berbagi cara menghentikan Revenge Trade yang efektif. Cara pertama adalah menetapkan Daily Loss Limit dengan ketat. Seorang trader yang telah konsisten menghasilkan keuntungan selama 5 tahun mengatakan bahwa dia akan segera berhenti trading ketika mengalami kerugian 3% dari portofolionya pada hari itu. Apapun yang terjadi, dia akan mematikan komputer dan melakukan hal lain segera. Teknik ini adalah bagian dari Cara Trading Forex Agar Portofolio Tidak Hancur yang harus diterapkan oleh setiap trader.
Cara kedua adalah memiliki Cooling Period atau periode menenangkan diri. Seorang trader wanita yang saya kenal menetapkan aturan bahwa setelah menutup posisi rugi, dia harus istirahat selama 30 menit. Selama waktu itu, dia akan bangkit dari layar, berjalan-jalan, berolahraga, atau bermeditasi untuk menenangkan emosinya sebelum kembali menganalisis pasar. Dia mengatakan bahwa cara ini membantunya tidak pernah melakukan Revenge Trade selama 2 tahun.
Cara ketiga adalah mencatat Trading Journal secara detail, terutama mencatat emosi saat trading. Saya merekomendasikan untuk membaca Buka Kunci Keuntungan! 5 Rahasia Mencatat Trading Journal ala Trader 1% Teratas untuk mempelajari cara mencatat yang benar. Seorang trader mengatakan bahwa setelah dia mulai mencatat emosinya setiap kali trading, dia menemukan bahwa 90% dari kerugian besar terjadi saat dia merasa marah atau kesal. Mengetahui kelemahan diri sendiri membuatnya lebih berhati-hati dan lebih baik dalam menghindari Revenge Trade.
Membangun Mindset yang Kuat
Trader yang bertahan lama di pasar seringkali memiliki Mindset yang berbeda dari pemula. Mereka melihat kerugian sebagai bagian dari bisnis, bukan kegagalan pribadi. Seorang trader yang telah trading selama 15 tahun memberi tahu saya bahwa "Kerugian itu seperti biaya sewa toko dalam berbisnis. Jika tidak mau membayar sewa, tidak bisa berbisnis." Sudut pandang seperti ini membantunya untuk tidak marah saat rugi dan tidak mencoba membalas dendam.
Mengembangkan Mindset yang baik membutuhkan latihan dan pembentukan kebiasaan yang benar. Anda harus mempelajari 7 kebiasaan harian yang akan mengubah Anda menjadi trader profesional dan menerapkannya secara konsisten. Semua trader sukses yang saya kenal pernah mengalami Revenge Trade sebelumnya, tetapi mereka belajar dari kesalahan dan mengembangkan disiplin diri hingga mampu mengendalikan emosi.
Kesimpulan
Revenge Trade adalah salah satu penyebab utama kegagalan 90% trader. Dari kisah-kisah yang tak terhitung jumlahnya yang saya dengar, tidak ada yang berhasil dengan Revenge Trade, hanya ada portofolio yang hancur dan penyesalan. Mengatasi Revenge Trade bukanlah hal mudah, tetapi sangat penting jika ingin bertahan di pasar. Ingatlah bahwa pasar akan buka lagi besok. Peluang selalu ada, tidak perlu membalas dendam hari ini. Menjaga portofolio tetap bertahan lebih penting daripada mencoba membalas dendam dari pasar. Trader yang baik bukanlah orang yang tidak pernah rugi, tetapi orang yang tahu cara mengelola emosi dan tidak membiarkan satu kerugian menghancurkan seluruh portofolio.
Sumber
- Investopedia – Psikologi Trading: Apa Itu dan Mengapa Penting
- Bloomberg – Trader Ritel Mencatat Hari Terburuk Sejak April Saat Reli Teknologi Tersandung
- Harvard Business Review – Mengelola Emosi dalam Pengambilan Keputusan Keuangan
- Investopedia – Memahami Loss Aversion dalam Trading: Definisi, Risiko, dan Strategi
Ditulis oleh

Thanakit Sutto
Finance content writer with a passion for investing, believes that good knowledge empowers smart decisions.
Pilihan terbaik minggu ini
Dapatkan E-Book SMC Gratis: Strategi Trading Terbaik Tahun 2025! Senilai Rp4,200,000
7 Faktor Utama yang Mempengaruhi Harga Bitcoin di Pasar Global
Analisis 15 Cryptocoin yang Layak Diinvestasikan pada 2025: Peluang dan Tren Pasar Kripto
Daftar Hari Ini untuk Mendapatkan E-book Gratis!
Apa itu Bitcoin? Mengapa ini menjadi mata uang digital yang menarik perhatian di seluruh dunia?




