Komunitas
TrustFinance adalah informasi yang dapat dipercaya dan akurat yang dapat Anda andalkan. Jika Anda mencari informasi bisnis keuangan, ini adalah tempatnya. Sumber informasi bisnis keuangan yang lengkap. Prioritas kami adalah keandalan.

TrustFinance Global Insights
3月 02, 2026
2 min read
87

Cadangan Minyak Strategis AS (SPR), pasokan minyak darurat terbesar di dunia, secara konsisten digunakan oleh pemerintahan untuk menstabilkan harga bahan bakar selama krisis internasional. Intervensi paling signifikan adalah pelepasan 180 juta barel yang diperintahkan oleh Presiden Joe Biden pada tahun 2022.
SPR berfungsi sebagai alat penting dalam kebijakan ekonomi AS selama ketidakstabilan geopolitik. Menanggapi invasi Rusia ke Ukraina, pemerintahan Biden mengizinkan pelepasan terbesar yang pernah ada, yaitu 180 juta barel selama enam bulan pada Maret 2022.
Sebelumnya, Presiden Barack Obama memerintahkan pelepasan 30 juta barel pada tahun 2011 untuk mengimbangi gangguan akibat perang saudara di Libya. Selama Operasi Badai Gurun pada tahun 1991, pemerintahan Presiden George H.W. Bush menjual 17,3 juta barel untuk mengatasi volatilitas pasar setelah invasi Irak ke Kuwait.
Menurut laporan, SPR saat ini menyimpan 415,4 juta barel minyak mentah asam (sour crude oil). Cadangan tersebut disimpan di gua garam bawah tanah di sepanjang pantai Texas dan Louisiana, dengan total kapasitas sekitar 714 juta barel.
Penggunaan SPR secara historis menyoroti perannya sebagai mekanisme kepresidenan utama untuk mengelola pasar energi selama gangguan global yang parah. Pelepasan di masa depan kemungkinan akan ditentukan oleh skala krisis internasional dan dampak langsungnya terhadap konsumen AS serta stabilitas ekonomi.
T: Apa tujuan Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS?
J: Ini adalah cadangan darurat minyak mentah yang dikelola oleh Amerika Serikat untuk mengurangi dampak gangguan pasokan yang parah terhadap ekonomi dan pasar energi.
T: Peristiwa apa yang memicu pelepasan terbesar dari SPR?
J: Pelepasan terbesar sebanyak 180 juta barel diizinkan oleh Presiden Joe Biden pada tahun 2022 sebagai tanggapan atas gejolak pasar energi yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina.
Sumber: Investing.com

TrustFinance Global Insights
AI-assisted editorial team by TrustFinance curating reliable financial and economic news from verified global sources.