TrustFinance adalah informasi yang dapat dipercaya dan akurat yang dapat Anda andalkan. Jika Anda mencari informasi bisnis keuangan, ini adalah tempatnya. Sumber informasi bisnis keuangan yang lengkap. Prioritas kami adalah keandalan.

TrustFinance Global Insights
3월 03, 2026
2 min read
8

Analis memperingatkan bahwa lonjakan harga energi, yang didorong oleh konflik geopolitik, menimbulkan ancaman signifikan bagi pasar berkembang. Dampaknya melampaui inflasi, menekan neraca eksternal, mata uang, dan arus modal. Perusahaan pialang seperti J.P.Morgan memprediksi minyak mentah Brent dapat melampaui $100 jika konflik meningkat.
Harga minyak mentah berjangka Brent baru-baru ini menyentuh harga tertinggi sejak Juli 2024, mencapai $85,12 per barel. Volatilitas ini telah mengguncang pasar keuangan global, menyebabkan indeks ekuitas dan mata uang pasar berkembang turun ke level terendah dalam tiga minggu karena investor mencari keamanan dolar AS.
Menurut ING, kenaikan harga minyak sebesar 10% saja dapat memperburuk neraca transaksi berjalan sebesar 40-60 basis poin di negara-negara berkembang. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga yang berkelanjutan dapat menambah 0,7 poin persentase pada inflasi di seluruh Asia berkembang sambil mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 poin. Negara-negara yang sangat rentan termasuk India, Thailand, Korea Selatan, Turki, dan Filipina karena ketergantungan mereka pada impor energi.
Lembaga keuangan memperingatkan bahwa guncangan minyak yang berkepanjangan dapat melepaskan ekspektasi inflasi, meningkatkan risiko arus keluar modal dan penurunan mata uang, terutama di negara-negara dengan cadangan rendah. Pelaku pasar memantau ketegangan geopolitik dan dampaknya yang berkelanjutan terhadap pasar energi.
Q: Negara mana saja yang paling berisiko akibat kenaikan harga minyak yang berkelanjutan?
A: Analis mengidentifikasi beberapa negara Asia termasuk Thailand, Korea Selatan, dan India, serta negara-negara dengan cadangan rendah seperti Argentina, Sri Lanka, Pakistan, dan Turki.
Q: Apa saja risiko ekonomi utama bagi pasar berkembang selain inflasi yang lebih tinggi?
A: Risiko utama meliputi memburuknya neraca transaksi berjalan, devaluasi mata uang terhadap dolar AS, dan arus keluar modal yang signifikan karena investor mencari aset yang lebih aman.
Sumber: Investing.com

TrustFinance Global Insights
AI-assisted editorial team by TrustFinance curating reliable financial and economic news from verified global sources.
Artikel Terkait